Senin, 02 Februari 2015

Anak Kecil yang Berhati Mulia



Istriku berkata kepadaku yang sedang asik membaca koran, "Berapa lama lagi ayah membaca koran itu? Tolong ayah kesini dan bantu anak perempuan ayah tersayang untuk makan."
 
Aku menaruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya yang bernama Sindu. Ia tampak ketakutan dan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). 

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun, dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Tetapi Istriku masih mempercayai mitos yang mengatakan bahwa makanan curd rice ini dapat memberi pengaruh baik untuk pertumbuhan anak.

Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak,nanti ibumu akan marah sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "Iya ayah, akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." sejenak ia ragu untuk mengatakannya, "...akan minta sesuatu ke ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah berjanji akan memenuhi permintaan Ku?"

Aku menjawab, "Oh.. pasti sayang".

Sindu tanya sekali lagi, "betul ayah?"

"iya, pasti sayang" sambil menggenggam tangan anakku yang kemerahan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama. Istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" katanya. Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang." Sindu menjawab, "jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok yah."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan terlihat sangat menderita bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah kepada istriku yang memaksa Sindu untuk memakan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian tertuju kepadanya.

Ternyata permintaan Sindu agar ayahnya mencukur habis rambut di kepalanya pada hari minggu.

Istriku spontan berkata, "permintaan Gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!" Juga menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu.. Mengapa Sindu tidak meminta hal lain? karena kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "tidak ada yah, Sindu tak punya keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah kenapa Sindu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami."

Sindu dengan menangis berkata, "ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan ayah sendiri? Bukankah ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang, apapun yang terjadi. Seperti halnya Raja Harish Chandra (raja India jaman dahulu kala) yang memenuhi janjinya kepada raja real untuk memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Ahirnya aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "janji kita harus ditepati." Secara sepontan istriku berkata, "apakah ayah sudah gila?"

"Tidak," jawabku, "kalau kita tidak menepati janji kita, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."

"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan indah. Pada hari senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan ia melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak aku berpikir mungkin "botak" adalah model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "anak anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang berjalan bersamanya sekarang, bernama Harish, ia adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia".

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai mengalir di pipinya, "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman-teman sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati, tuan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia".

Aku berdiri terpaku dan tak terasa air mataku mengalir.

AYAH



KH. Nakhrowi Saabiq,M.Pd.I
AYAH...
Tahun 1965, Tahun kapan ayah dilahirkan..
Tahun Penuh kebahagiaan hingga kini kebahagiaan itu tak kan pernah sirna..
Bahagiaku karena,..
Ayah..
yang selalu ku minta tangannya sebagai bantal tidurku saat kecil dulu..
yang selalu mendongengkanku sebelum tidur dengan memainkan tangan dan kipas sebagai boneka dongeng,,
sehingga terlihat seru, tegang dan menggelitik..
aku selalu terbawa dengan suasana dongeng itu,,
terasa aku masuk dalam dunia dongeng itu..
Ayah..
Yang selalu mengingatkanku shalat, ngaji dan berbuat baik..
sejak kecil pendidikan ini sudah ayah terapkan untukku..
sebuah rotan yang terlihat tajam membuatku takut untuk meninggalkan kewajiban..
Sentakan saat aku melakukan kesalahan membuatku menangis tiada henti..
semata2 itu semua ayah lakukan demi kebaikanku..
Bayangkan, jika itu tidak ayah terapkan.. mungkin kini aku buta akan amal sholeh..
meremehkan kewajiban2 kpada Allah..
tidak tau akan adab, sopan santun..
berbicara yg tidak bermanfaat..
Na'udzubillah..
Maka, patut kiranya ku bersyukur atas apa yang engkau lakukan demi kebaikan putrimu ini..
Ayah..
Yang selalu bersedia menyempatkan waktu berdiskusi, mengajari,.
bahkan bertanya ssuatu yang mungkin sudah ayah ketahui jawabannya..
yang mungkin kiranya sengaja ayah lakukan..
agar kelak aku dapat menjawab pertanyaan oranglain yang serupa dengan pertanyaan ayah..
Membuatku untuk lebih mendalami suatu pengetahuan,..
apapun itu, baik seputar agama,maupun politik,..
Ayah..
Yang selalu beralasan untuk tidak mengajar diniyah..
dan menyuruhku untuk menggantikan..
membuatku harus slalu siap dan melatih mentalku..
Ayah..
yang selalu memberiku motivasi..
menjadikanku terus melangkah dan berjuang tuk menjadi lebih baik..
Ayah..
Yang selalu menanyakan hasil study ku..
membuatku terus belajar agar mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya..
Ayah..
yang selalu memberi semangat, mau'idzoh, darsul hayah, dan lainnya yang mencerahkan hati dan pikiranku..
membuatku semangat, optimis, dan bertahan tuk tidak mengeluh..
Ayah..
yang selalu mengajarkanku melakukan suatu hal dengan tangan sendiri..
mengajarkanku untuk tidak hidup manja dan tidak merepotkan orang lain..
itulah yang membuatku terbiasa mandiri..
Semua itu ayah lakukan dengan penuh cinta, kasih dan sayang.
Terima Kasih ya ALLAH..
Engkau telah memberikan takdir hidupku bersama Kekasih Allah..
Engkau telah memberiku ayah yang langkahnya selalu bersama-Mu..
Engkau telah menganugerahi seorang ayah yang berhasil mendidik putrinya..
Ingin kukatakan kepada seluruh orang dipenjuru dunia ini,bahwa..
"AKU BANGGA PUNYA AYAH YANG SANGAT HEBAT"
Terima Kasih ayah yg telah sudi mempertaruhkan segalanya demi hidupku..
Semoga Allah SWT menambahkan segala kebaikan..
Semoga Allah SWT senantiasa memberi kesehatan lahir bathin..
semoga Allah SWT selalu memberi rizki yg berlimpah..
semoga Allah SWT selalu memberi kebahagiaan dunia dan akhirat..
semoga Allah SWT mengijinkan ayah untuk melihat kesuksesanku dalam mensukseskan cucu2 ayah..
sebagaimana engkau sukseskan diriku..
semoga Allah SWT menjadikan ayah husnul khotimah..
AAMIINN YAA MUJIIBASSAAILIIN...
I LOVE YOU AYAH :-*